Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di bidang komunikasi dan bisnis, Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR telah mencatatkan berbagai prestasi strategis dalam bidang penjaminan mutu pendidikan tinggi. LSPR berhasil meraih Akreditasi Unggul untuk institusi, serta secara konsisten mempertahankan status akreditasi unggul dan sangat baik pada sejumlah program studi. Capaian ini menegaskan posisi LSPR sebagai institusi yang tidak hanya berorientasi pada reputasi, tetapi juga pada kualitas tata kelola akademik yang terukur dan berkelanjutan.
Selain akreditasi nasional, LSPR juga aktif mengembangkan praktik penjaminan mutu yang selaras dengan standar internasional, tercermin dari upaya penguatan kurikulum, tata kelola akademik, serta mekanisme evaluasi internal yang terstruktur. Berbagai pengakuan dan asesmen mutu tersebut menjadi hasil dari komitmen institusi dalam membangun sistem penjaminan mutu yang berjalan secara konsisten, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di balik capaian-capaian tersebut, LSPR menempatkan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) sebagai fondasi utama keberlanjutan institusi. Akreditasi dipahami bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai output dari proses mutu yang dirancang secara sadar dan dijalankan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan siklus PPEPP menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi institusi dalam menjaga kualitas pembelajaran, relevansi lulusan, serta kepercayaan pemangku kepentingan.
Dalam konteks inilah, SPMI diposisikan sebagai instrumen strategis pengelolaan mutu, bukan sekadar pemenuhan administrasi. LSPR nampaknya memandang SPMI sebagai ruang refleksi institusional, tempat standar mutu ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata, pelaksanaan dipantau secara sistematis, dan peningkatan dilakukan berbasis evaluasi serta data. Pendekatan ini menjadi landasan penting bagi LSPR dalam menghadapi dinamika regulasi dan tuntutan mutu pendidikan tinggi yang semakin kompleks.
Pendampingan eSPMI yang Cepat, Adaptif, dan Kolaboratif
Sejak tahun 2022, Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR mulai memanfaatkan aplikasi eSPMI dari eCampuz sebagai bagian dari upaya digitalisasi pengelolaan mutu. Dalam proses awal implementasi tersebut, tim eCampuz mendampingi Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) LSPR dan mendapati satu hal yang menonjol: kesiapan tim LPM dalam memahami dan menerjemahkan SPMI ke dalam praktik pengelolaan mutu yang lebih terstruktur.
Proses pendampingan berjalan relatif cepat dan lancar, bukan semata karena sistem yang digunakan, tetapi karena tingginya komitmen serta keterbukaan tim LPM LSPR dalam berdiskusi dan menyelaraskan alur kerja mutu yang sudah berjalan dengan dukungan sistem digital. Tim LPM LSPR terlibat aktif sejak awal, terutama dalam memetakan standar mutu dan menyesuaikan siklus PPEPP ke dalam eSPMI sesuai konteks dan kebutuhan institusi.
Dalam pendampingan tersebut, tim eCampuz juga mencatat bahwa seluruh fitur eSPMI dapat diterima dengan baik tanpa adanya respons negatif dari tim LPM LSPR. Hal ini menjadi indikasi penting bahwa secara fungsional, eSPMI mampu menjawab kebutuhan pengelolaan SPMI di LSPR. Sistem tidak dipandang sebagai beban baru, melainkan sebagai alat bantu yang relevan dan selaras dengan cara kerja tim LPM.
Kolaborasi yang terbangun membuat proses adaptasi eSPMI terasa natural. Tim LPM LSPR dapat langsung memanfaatkan sistem untuk mendukung pekerjaan mutu sehari-hari, sehingga fokus tetap tertuju pada substansi penjaminan mutu, mulai dari penataan standar hingga pengelolaan siklus PPEPP tanpa terganggu oleh kompleksitas teknis aplikasi.
Pengalaman pendampingan ini menjadi fondasi penting bagi LSPR dalam menata praktik SPMI yang lebih matang dan berorientasi jangka panjang, sekaligus mencerminkan kesiapan dan kematangan tim LPM LSPR dalam mengelola mutu secara sistematis dan berkelanjutan.
Seiring dengan semakin tertatanya proses SPMI secara struktural dan terdokumentasi, muncul kesadaran bahwa pengelolaan mutu tidak cukup berhenti pada kepatuhan terhadap standar dan siklus yang berjalan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana memastikan bahwa proses mutu mampu mengantisipasi dinamika internal dan eksternal yang berpotensi memengaruhi pencapaian standar secara lebih dini.
Dalam konteks inilah, wacana penguatan SPMI mulai bergeser ke arah pendekatan yang lebih proaktif dan strategis, salah satunya melalui penerapan SPMI berbasis risiko sebagai pengembangan dari praktik mutu yang telah berjalan.
Kesadaran Baru dalam Tata Kelola Mutu Menuju SPMI Berbasis Risiko
Seiring berkembangnya kebijakan dan regulasi pendidikan tinggi, pendekatan penjaminan mutu pun ikut berevolusi. Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 menegaskan pentingnya manajemen risiko dalam tata kelola perguruan tinggi, termasuk dalam implementasi SPMI dan Audit Mutu Internal (AMI).
Dalam pendekatan SPMI berbasis risiko, setiap tahapan siklus PPEPP tidak lagi hanya menilai ketercapaian standar, tetapi juga:
- Mengidentifikasi risiko yang berpotensi menghambat pencapaian standar,
- Menentukan prioritas risiko,
- Menyusun langkah mitigasi yang terukur,
- Memantau efektivitas pengendalian risiko secara berkelanjutan.
Materi yang disampaikan dalam berbagai forum akademik dan webinar menunjukkan bahwa pendekatan ini mendorong kampus untuk lebih proaktif, bukan reaktif. Risiko kualitas tidak lagi ditunggu hingga menjadi temuan audit, melainkan dikelola sejak tahap perencanaan.
Tim LPM LSPR sendiri telah menyampaikan rencana untuk mulai menerapkan SPMI dan AMI berbasis risiko, serta menjajaki pemanfaatan aplikasi eSPMI sebagai alat bantu pengelolaannya.
eSPMI sebagai Enabler Budaya Mutu Berkelanjutan
Dalam praktiknya, eSPMI membantu LSPR mendokumentasikan standar mutu secara terstruktur dengan menyediakan ruang digital yang sistematis untuk mencatat standar pada setiap level mulai dari standar institusi hingga turunan di tingkat unit kerja dan program studi. Pendokumentasian ini tidak hanya memudahkan penelusuran dokumen, tetapi juga memastikan bahwa setiap standar memiliki kejelasan indikator, target capaian, serta keterkaitannya dengan siklus PPEPP. Dengan pendekatan ini, standar mutu tidak lagi tersebar dalam berbagai dokumen terpisah, melainkan terkelola dalam satu sistem yang utuh dan mudah diakses.
Lebih dari sekadar pencatatan, eSPMI juga berperan dalam memantau pelaksanaan siklus PPEPP secara lebih terukur. Setiap tahapan, penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, hingga peningkatan dapat dipantau progresnya melalui sistem, sehingga LPM dan pimpinan tidak hanya mengetahui bahwa suatu standar telah ditetapkan, tetapi juga sejauh mana standar tersebut dijalankan dan dievaluasi. Hal ini membantu kampus memastikan bahwa siklus mutu benar-benar berjalan, bukan sekadar tercantum dalam dokumen kebijakan.
Selain itu, penggunaan eSPMI memungkinkan kampus menyediakan basis data mutu yang konsisten dan berkelanjutan. Data hasil evaluasi, temuan AMI, serta tindak lanjut perbaikan terdokumentasi dalam satu basis data yang sama dari waktu ke waktu. Konsistensi data ini menjadi sangat penting, terutama ketika kampus perlu melakukan analisis tren mutu, menyiapkan bahan akreditasi, atau melakukan refleksi kebijakan berbasis bukti, bukan sekadar asumsi.
Pada akhirnya, seluruh proses tersebut bermuara pada dukungan terhadap pengambilan keputusan berbasis data. Dengan tersedianya informasi mutu yang terstruktur dan historis, pimpinan perguruan tinggi dan tim LPM dapat merumuskan kebijakan peningkatan mutu secara lebih tepat sasaran. Keputusan tidak lagi hanya didasarkan pada intuisi atau tekanan eksternal, tetapi pada data nyata yang merefleksikan kondisi mutu institusi secara menyeluruh.
Pendampingan berkelanjutan dari tim eCampuz juga menjadi nilai tambah tersendiri, karena memastikan bahwa penggunaan sistem selalu selaras dengan arah kebijakan dan visi mutu kampus.
Menjaga Visi LSPR: Mutu sebagai Proses yang Hidup
Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR secara resmi menetapkan visinya untuk “menjadi universitas berkelas dunia dan panutan dalam bidang komunikasi dan bisnis yang inklusif, di mana inovasi, keunggulan, dan nilai-nilai membentuk pemimpin masa depan bagi masyarakat dan industri.” Visi ini menjadi arah strategis dalam setiap kebijakan dan pengembangan institusi, termasuk dalam penguatan sistem penjaminan mutu internal.
Dalam semangat tersebut, LSPR memandang mutu bukan sebagai target statis, melainkan sebagai proses yang hidup dan terus berkembang. Penguatan SPMI, adopsi pendekatan berbasis risiko, serta pemanfaatan teknologi seperti eSPMI menjadi bagian dari upaya institusi untuk memastikan bahwa standar mutu tidak hanya ditetapkan, tetapi juga dijalankan, dievaluasi, dan ditingkatkan secara berkelanjutan seiring dengan dinamika pendidikan tinggi dan kebutuhan industri.
Bagi pimpinan perguruan tinggi dan tim LPM, langkah ini menegaskan bahwa capaian akreditasi dan pengakuan mutu merupakan hasil dari tata kelola yang konsisten, reflektif, dan berbasis data, selaras dengan visi LSPR untuk menghadirkan keunggulan akademik yang berdampak nyata.
Dalam perjalanan tersebut, eCampuz melalui eSPMI berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis kampus dengan mendampingi proses penjaminan mutu yang bertumbuh, adaptif, dan relevan, sejalan dengan visi LSPR dalam membangun institusi pendidikan tinggi yang unggul dan berkelanjutan.




